Langsung ke konten utama

Methemoglobin

Methemoglobin

Methemoglobin adalah suatu hasil oksidasi hemoglobin yang tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengangkut oksigen. Ini dapat dibuktikan dengan mudah secara spektrofotometri. Banyak zat, misalnya, amina aromatik atau senyawa nitro aromatik yang dalam organisme direduksi menjadi amina aromatik, sulfonamida, asetanilid, asam aminosalisilat, nitrofurantoin, primakuina, kinina atau nitrit, menyebabkan pembentukan methemoglobin dari hemoglobin. Jika methemoglobin hanya dibentuk dalam jumlah kecil, maka methemoglobin dapat direduksi kembali menjadi hemoglobin di dalam eritrosit. Jika sebaliknya pembentukan methemoglobin naik sampai jumlah tertentu, proses regenerasi pada eritrosit tidak cukup dan kemampuan darah untuk transport oksigen berkurang dengan nyata. (Ariens, 1986)

Pembentukan hemoglobin sebagai akibat timbunan nitrat dalam air minum dan dalam bahan makanan. Meminum air minum yang mengandung nitrat, sayuran (bayam dipupuki berlebihan) dapat menyebabkan penyakit karena reduksi nitrat oleh bakteri dalam bahan yang diawetkan atau di dalam usus. Reduksi nitrat menjadi nitrit oleh mikroorganisme dan penyerapan nitrit ke dalam darah menyebabkan pembentukan methemoglobin. Pengikat nitrit pada hemoglobin mengakibatkan pembentukan yang mengikat erat oksigen secara tidak reversibel. Akibatnya ialah bahwa eritrosit tidak lagi mampu mengangkut oksigen dan menimbulkan sianosis. Pada anak-anak yang lebih tua dan pada orang dewasa, bakteri yang merespirasi nitrat oleh getah lambung yang asam kuat dimatikan dan ion nitrat diserap, sebelum sampai ke duodenum dengan rentang pH yang memungkinkan ion-ion ini tereduksi (Schlegel, 1994).
Nitrit terutama akan bereaksi dengan hemoglobin membentuk Methemoglobin (MetHb). Dalam jumlah melebihi normal MetHb akan menimbulkan Methemoglobinemia. Pada bayi Methemoglobinemia sering dijumpai karena pembentukan enzim untuk menguraikan MetHb menjadi Hb masih belum sempurna. Sebagai akibat Methemoglobinemia, bayi akan kekurangan oksigen, maka mukanya akan tampak membiru, dan karenanya penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit ”Blue Babies”. Penyakit Methemoglobinemia memiliki gambaran klinis yang sangat khas yaitu penampilan sianotik biru yang disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagian besi dalam jumlah yang bermakna dalam hemogobin sel darah merah yang beredar ada dalam bentuk ferri dan tidak mampu mengangkut oksigen (Slamet, 2002).
Gambaran klinik yang terlihat akibat methemoglobin antara lain sakit kepala, kelelahan, pingsan, cyanosis, disarythmia dan kegagalan peredaran darah dan efek yang progresif dari sistem saraf pusat bahkan kematian (Depkes RI Ditjen PPM & PL, 2001).
DAFTAR PUSTAKA


Ariens, E.J., E. Mutschler, A.M. Simonis. 1986. Toksikologi Umum (Pengantar). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Departemen Kesehatan RI Ditjen PPM dan PL. 2001. Bahan-bahan Berbahaya dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Slamet, J.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leaflet Gizi Diit Atlet Sepak Bola

Teori Snehandu B.Kar (perilaku)

Teori Snehandu B.Kar Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari: a) Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya ( behaviour intention ). b) Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya ( social-support ). c) Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan ( accessebility of information ). d) Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan ( personal autonomy ). e) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak( action situation ). Uraian diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: B=f(BI, SS, AL, PA, AS) Keterangan : B= Behaviour F= Fungsi BI= Behaviour Intention SS= Social Support AI= Accessebility of Information PA= Personal Autonomy AS= Action Situation Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyrakat ditentukan oleh niat orang terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya ...

Penentuan sifat gram dengan KOH 3% dan perbandingannya dengan pewarnaan gram

Penentuan sifat gram dengan KOH 3% dan perbandingannya dengan pewarnaan gram Lebih dari 120 tahun yang lalu Hans Christian Gram menemukan metode diferensiasi yang paling penting dalam bakteriologi yaitu pewarnaan gram. Sampai sekarang metode ini tidak banyak berubah sejak 1884 walaupun telah dilakukan beberapa modifikasi untuk meningkatkan efisiensi. Prosedur pewarnaan gram dinilai relatif sulit dalam prakteknya. Selain sukar memutuskan warna ungu atau merah, cara ini juga membutuhkan banyak biaya, waktu, reagen harus diganti secara berkala dan seringkali berantakan. Kekurangan ini disebabkan oleh adanya beberapa tahap yang membutuhkan perlakuan zat warna dan reagen selama satu menit lalu dilakukan pembilasan yang mungkin dapat tumpah di meja. Tahap krusial lain yang mungkin setiap orang berbeda adalah tahap dekolorisasi. Bisa saja kelebihan penambahan etanol menghasilkan sifat gram yang berbeda antara lab satu dengan lab yang lainnya. Kurang lebih 60 tahun yang lalu dikembangkan metod...