Langsung ke konten utama

PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEJADIAN DBD DI KOTA CILACAP TAHUN 2005-2010




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Iklim kini sulit diprediksi, hal ini terjadi karena efek dari pemanasan global. Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena akibat dari perubahan iklim. Perubahan iklim di Indonesia berimbas kepada berbagai masalah beberapa diantaranya adalah meningkatnya bencana alam, meningkatnya frekuensi penyakit tropis salah satunya yaitu demam berdarah dengue (Budiono, 2008).
Indonesia merupakan kawasan endemik bagi penyakit DBD. Hampir seluruh pelosok Indonesia merupakan daerah yang sangat baik untuk perkembangan atau penularan penyakit DBD (Hales dkk, 2002).
Di Indonesia kasus DBD pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968. Di Jakarta, kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969. Pada tahun 1994 DBD telah menyebar ke seluruh propinsi di daerah pedesaan. (WHO, 2006).
Jawa Tengah merupakan daerah endemik DBD di Indonesia, salah satu daerah yang endemik DBD di Jawa Tengah adalah Kota Cilacap.Peningkatan kasus terjadi pada musim penghujan (Dinkes Cilacap,2008).
Berdasarkan data BPS tahun 2010 terjadi perubahan suhu yang signifikan di Kota Cilacap, dari tahun 2005-2010 suhu sudah meningkat dari suhu tertinggi tahun 2005 yaitu 23-27,6oC menjadi 24-30oC pada awal tahun 2010. Bertitik tolak dari hal tersebut maka penulis merasa tertarik melakukan penelitian pengaruh iklim terhadap kejadian DBD di kota cilacap tahun 2005-2010

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Adakah pengaruh perubahan iklim terhadap kejadian DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010?”.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Mengetahui pengaruh perubahan iklim terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010

2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui indeks curah hujan, suhu udara, kelembaban, arah angin dan distribusi kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010
b. Menganalisis pengaruh indeks curah hujan, suhu udara, kelembaban, arah angin terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010

D. Manfaat
1. Bagi DKK
Sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan dalam bidang DBD terutama yang berkaitan dengan perubahan iklim.
2. Bagi FKIK Jurusan Kesehatan Masyarakat
Menambah pustaka atau bacaan dalam rangka pembangunan ilmu kesehatan masyarakat khususnya dibidang epidemiologi terutama mengenali DBD.
3. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman.
4. Bagi Masyarakat
Memberikan gambaran tentang perubahan iklim terhadap kejadian DBD sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang DBD yang berhubungan dengan perubahan iklim sehingga dapat membantu dalam usaha penurunan kejadian DBD.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Gambaran Umum Penyakit Demam Berdarah Dengue
1. Demam Berdarah Dengue
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga (www.litbang.depkes.go.id, 2010).
Penyakit DBD adalah penyakit menular berbahaya yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah (trombosit) sehingga berkurangnya zat pembeku darah dalam plasma yang mengakibatkan pendarahan dan dapat menimbulkan kematian. Virus lalu merusak limpa dan hati termasuk butir-butir darah merah dan darah putih yang mengalir ke organ tersebut (WHO, 1997).
Trend kasus penyakit DBD pada umumnya sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan dan menurun setelah musim penghujan berakhir. Virus ini muncul akibat pengaruh musim dan alam serta perilaku manusia (Departemen Kesehatan, 2004). Penyebaran penyakit DBD disebabkan karena faktor agent (virus Dengue), lingkungan (kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk)), semakin baiknya sarana transportasi penduduk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air, dan adanya empat serotipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun (WHO, 2002).
2. Penyebab Demem Berdarah Dengue
Menurut Siregar (2004), penyebab penyakit adalah virus Dengue. Virus ini termasuk kelompok Arthropoda Borne Viruses (Arbovirosis).
Sampai saat ini dikenal ada 4 serotipe virus yaitu :
a. Dengue 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944
b. Dengue 2 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944
c. Dengue 3 diisolasi oleh Sather
d. Dengue 4 diisolasi oleh Sather
Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dan yang terbanyak adalah Dengue 2 dan Dengue 3. Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue 3 merupakan serotipe virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat (WHO, 2000).
3. Cara Penularan Demam Berdarah Dengue
DBD merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk yang paling berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti karena hidupnya di dalam dan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus hidupnya di kebun-kebun sehingga lebih jarang kontak dengan manusia (Sumunar, 2008).
Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi dengan DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Nyamuk betina menggigit atau menghisap darah orang yang mengalami infeksi Dengue, kemudian virus Dengue akan masuk ke dalam tubuh nyamuk. Virus Dengue memerlukan waktu sembilan hari untuk hidup dan berkembangbiak di dalam air liur nyamuk. Nyamuk yang terjangkit virus Dengue kemudian menggigit manusia dan memasukkan virus Dengue yang berada di dalam air liurnya ke dalam sistem aliran darah manusia. Setelah 3-15 hari atau yang disebut sebagai periode inkubasi, penderita akan mulai mendapat demam yang tinggi (Siregar, 2004).
Penularan juga dapat terjadi apabila nyamuk Aedes betina sedang menghisap darah orang yang terinfeksi virus Dengue, dan nyamuk itu segera akan menggigit orang lain pula. Hal ini menyebabkan virus yang terdapat di dalam probosis nyamuk tersebut akan masuk ke dalam peredaran darh orang kedua tanpa memerlukan masa inkubasi. Seekor nyamuk yang sudah terjangkit akan membawa virus itu di dalam badannya sampai berakhir kehidupannya (Siregar, 2004).
4. Gejala Demam Berdarah Dengue
Menurut WHO (1997), setelah mengalami inkubasi selama 3-15 hari sejak seseorang terserang virus Dengue, selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala DBD sebagai berikut:


a. Demam
Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.
b. Manifestasi Pendarahan
Pendarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam. Sebab pendarahan adalah trombosittopenia. Bentuk pendarahan dapat berupa :
1) Ptechiae
2) Purpura
3) Echymosis
4) Pendarahan konjungtiva
5) Pendarahan dari hidung (mimisan atau epistaxis)
6) Pendarahan gusi
7) Muntah darah (hematemesis)
8) Buang air besar berdarah (hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu diperlukan tes torniquet dan bisaanya positif pada sebagian besar penderita DBD.
c. Pembesaran Hati (Hepatomegali)
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan berupa penyakit pembesaran hati mungkin berkaitan dengan strain serotipe virus Dengue.
d. Renjatan (Syok)
Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan perdarahan atau kebocoran plasma ke darah vaskuler melalui kapiler yang rusak. Adapun tanda-tanda perdarahan:
1) Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
2) Penderita menjadi gelisah.
3) Nadi cepat, lemah, kecil.
4) Tekanan nadi menurun (menjadi 20 MMHg atau kurang).
5) Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 MMHg atau kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam, bisaanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk.
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang mencolok, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi secara singkat (24-48 jam). Hemostatis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan. Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat (WHO, 2000).
5. Manifestasi Klinis Penyakit Demam Berdarah Dengue
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis, terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis ynag berlebihan (overdiagnosis) (WHO, 1998).
a. Kriteria Klinis
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan:
1) Uji tourniquet positif
2) Petekia, ekimosis, purpura
3) Perdarahan mukosa, epitaksis, perdarahan gusi
4) Hematemesis dan melena
5) Hematuria
6) Pembesaran hati (hepatomegali)
7) Manifestasi syok/renjatan
b. Kriteria Laboratoris
1) Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml) 2) Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)
Menurut WHO (1998), DBD diklasifikasikan menjadi empat tingkatan keparahan, dimana derajat III dan IV dianggap DSS. Adanya trombositopenia dengan disertai hemokonsentrasi membedakan derajat I dan II DHF dan DF.

a. Derajat I
Demam disertai dengan gejala non-spesifik; satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes tourniquet positif dan mudah memar.
b. Derajat II
Pendarahan spontan selain manifestasi pasien pada derajat I, bisaanya pada bentuk pendarahan kulit atau pendarahan lain.
c. Derajat III
Gagal sirkulasi dimanifestasikan dengan nadi cepat dan lemah serta penyempitan nadi atau hipotensi, dengan kulit dingin dan lembab serta gelisah.
d. Derajat IV
Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.

B. Vektor Demam Berdarah Dengue
1. Aedes aegypti dan Aedes albopictus
Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus Dengue penyebab penyakit DBD. Selain Dengue, Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus Dengue, Aedes aegypti merupakan pembawa utama (primary vektor) dan bersama Aedes albopictus (co vektor) menciptakan siklus persebaran Dengue di desa dan kota (Womack, 1993).
2. Klasifikasi Ilmiah
Klasifikasi ilmuah nyamuk Aedes menurut Womack (1993) adalah sebagai berikut:
a. Aedes aegypti
1) Kerajaan : Animalia
2) Filum : Arthropoda
3) Kelas : Insecta
4) Ordo : Diptera
5) Familia : Culicidae
6) Subfamilia : Culicinae
7) Genus : Aedes (Stegomyia)
8) Spesies : Aedes aegypti
b. Aedes albopictus
1) Kerajaan : Animalia
2) Filum : Arthropoda
3) Kelas : Insecta
4) Ordo : Diptera
5) Familia : Culicidae
6) Subfamilia : Culicinae
7) Genus : Aedes (Stegomyia)
8) Spesies : Aedes albopictus

3. Ciri-ciri Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Secara umum ciri-ciri nyamuk penyebab penyakit DBD (nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus) menurut Womack (1993) adalah sebagai berikut:
a. Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
b. Pertumbuhan telur sampai dewasa ± 10 hari
c. Menggigit atau menghisap darah pada pagi dan sore hari
d. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung dalam kamar
e. Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah yang agak gelap dan lembab, bukan di got atau comberan
f. Hidup di dalam dan di sekitar rumah
1) Di dalam rumah : bak mandi, tampayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain.
2) Di luar rumah: drum, tangki penampungan air, kaleng bekas, ban bekas, botol pecah, potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain.
Aedes Aegypti dan Aedes albopictus secara morfologis keduanya sangat mirip, namun dapat dibedakan dari strip putih yang terdapat pada bagian skutumnya (Merrit & Cummins, 1978). Skutum Aedes Aegypti berwarna hitam dengan dua strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis lengkung berwarna putih (Gambar 2.1). Sementara skutum Aedes albopictus yang juga berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya (Gambar 2.1). Roche (2002) dalam Supartha (2008), melaporkan bahwa Aedes aegypti mempunyai dua sub spesies yaitu Aedes aegypti queenslandensis dan Aedes aegypti formosus. Sub spesies pertama hidup bebas di Afrika sementara sub spesies kedua hidup di daerah tropis yang dikenal efektif menularkan virus DBD. Sub spesies kedua lebih berbahaya dibandingkan sub spesies pertama.

4. Siklus Hidup Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Menurut Departemen Kesehatan (2004) siklus hidup nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus dibagi menjadi 4 tahapan siklus yaitu:
a. Telur
1) Satu per satu pada dinding bejana
2) Telur tidak berpelampung
3) Sekali bertelur nyamuk betina menghasilkan sekitar 100-250 butir
4) Telur kering dapat tahan 6 bulan
5) Telur akan menjadi jentik setelah sekitar 2 hari
b. Jentik
1) Sifon dengan satu kumpulan rambut
2) Pada waktu istirahat membentuk sudut dengan permukaan air
3) 6-8 hari menjadi pupa
c. Pupa
1) Sebagian kecil tubuhnya kontak dengan permukaan air
2) Bentuk terompet panjang dan ramping
3) 1-2 hari menjadi nyamuk Aedes aegypti
d. Nyamuk Dewasa
1) Panjang 3-4 mm
2) Bintik hitam dan putih pada badan dan kepala
3) Terdapat ring putih di kakinya

5. Tempat Berkembang Biak Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Lingkaran hidup nyamuk ini melalui metamorfosis sempurna, artinya sebelum menjadi stadium dewasa harus mengalami beberapa stadium pertumbuhan yakni telur, beberapa stadium larva dan stadium pupa. Satu siklus lamanya kira-kira 9-12 hari dan ini sangat tergantung dengan adanya persediaan makanan dan temperatur yang sesuai. Pengetahuan tentang oviposition (tempat bertelur) dan breeding place (tempat perkembangbiakan) dalam siklus hidup mem[unyai arti tersendiri karena ada kaitannya dengan program penanggulangan vektor (Wijana,1992).
Secara biologis kedua spesies nyamuk tersebut mempunyai dua habitat yaitu akuatik (perairan) untuk fase pra dewasanya (telur, arva dan pupa), dan daratan atau udara untuk serangga dewasa. Nyamuk yang habitat imago di daratan atau udara akan mencari tempat di dekat permukaan air untuk meletakkan telurnya. Bila telur yang diletakkan itu tidak mendapat sentuhan air atau kering masih mampu bertahan hidup antara 3 bulan sampai satu tahun. Masa hibernasi telur-telur itu akan berakhir atau menetas bila sudah mendapatkan lingkungan yang cocok pada musim hujan untuk menetas. Telur itu akan menetas antara 3-4 jam setelah mendapat genangan air menjadi larva. Habitat larva yang keluar dari telur tersebut hidup mengapung di bawah permukaan air (Judarwanto, 2007).
Berbeda dengan habitat imagonya yaitu hidup bebas di daratan (terrestrial) atau udara (aborial). Aedea aegypti lebih menyukai tempat di dalam rumah penduduk sementara Aedes albopictus lebih menyukai tempat di luar rumah yaitu hidup di pohon atau kebun atau kawasan pinggir hutan oleh karena itu sering disebut nyamuk kebun. Nyamuk Aedes aegypti yang lebih memilih habitat di dalam rumah sering hinggap pada pakaian yang digantung untuk beristirahat dan bersembunyi menantikan saat tepat inang datang untuk menghisap darah (Supartha, 2008).
Berdasarkan pola pemilihan habitat dan kebisaaan hidup nyamuk dewasa Aedes aegypti dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, tempat minum burung dan barang-barang bekas yang dibuang sembarangan yang pada waktu hujan terisi air. Sementara Aedes albopictus dapat berkembang biak di habitat perkebunan terutama pada lubang pohon atau pangkal bambu yang sudah dipotong yang bisaanya jarang terpantau di lapangan. Kondisi itu dimungkinkan karena larva nyamuk tersebut dapat berembang biak dengan volume air minimum kira-kira 0,5 sentimeter setara atau setara dengan satu sendok teh (Hasyimi dan Soekirno, 2004).
Nyamuk Aedes aegypti lebih senang bertelur di permukaan-permukaan yang basah dari kontainer. Tidak pernah ditemukan bertelur di permukaan kering dan permukaan berlumpur. Berdasarkan percobaan di laboratorium ternyata 29,9% telur dapat ditetaskan di permukaan air apabila disediakan permukaan kontainer yang tidak cocok, misalnya permukaan gelas. Suatu survai telah dilakukan oleh Moore, dkk (1978) di Tanzania dan menemukan breeding place pada tempat-tempat sebagai berikut:

a. Ban-ban bekas
b. Bekas bagian-bagian (onderdil)
c. Tong-tong kayu
d. Kulit-kulit kacang
e. Tempayan-tempayan berisi air
f. Lekukan-lekukan daun
g. Bekas rumah-rumah siput
h. Lubang-lubang pada pohon
i. Potongan-potogan bambu
Perilaku hidup larva tersebut berhubungan dengan upayanya menjulurkan alat pernafasan yang disebut sifon menjangkau permukaan air guna mendapatkan oksigen untuk bernafas. Habitat seluruh masa pradewasanya dar telur, larva dan pupa hidup di dalam air walaupun kondisi airnya sangat terbatas (Judarwanto, 2007).

6. Perilaku Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Menurut Departemen Kesehatan (1884) pola perilaku nyamuk meliputi perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak:
a. Perilaku Mencari Darah
Imago Aedes aegypti dan Aedes algopictus jantan mempunyai perilaku makan yang sama yaitu mengisap vektor dan juga tanaman sebagi sumber energinya. Selain energi, imago betina juga membutuhkan pasokan protein untuk keperluan produksi (anautogenous) dan proses pematangan telurnya. Pasokan protein tersebut diperoleh dari cairan darah inang (Merrit & Cummins, 1978).
Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00-12.00 dan jam 15.00-17.00. nyamuk betina untuk mendapatkan darah yang cukup sering menggigit lebih dari satu orang (multiple bitter). Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter dan umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan (Merrit & Cummins, 1978).
b. Perilaku Istirahat
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai Aedes aegypti adalah tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur, WC dan di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai sedangkan Aedes albopictus di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah (Merrit & Cummins, 1978).
c. Perilaku Berkembang Biak
1) Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas permukaan air.
2) Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir.
3) Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan.
4) Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air.
5) Jentik nyamuk setelah 6-8 hari akan tumbuh menjadi pupa nyamuk.
6) Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak di dalam air, tetapi tidak makan dan setelah 1-2 hari akan memunculkan nyamuk Aedes aegypti baru.
(Supartha, 2008)

C. Pengaruh Iklim Terhadap Kasus Demam Berdarah Dengue
Factor lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan vektor adalah factor abiotik dan biotic. Menurut Barrera dkk (2006), factor abiotik seperti iklim (curah hujan, suhu, kelembaban dan evaporasi) dapat mempengaruhi kegagalan telur, larva dan pupa nyamuk menjadi imago. Demikian juga factor biotic seperti predator, parasit, competitor dan makanan yang berinteraksi dalam container sebagai habitat akuatiknya pradewasa juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya menjadi imago.
Menurut Mc Michael (2006) perubahan iklim menyebabkan perubahan curah hujan, suhu, kelembaban, arah udara sehingga berefek terhadap ekosistem daratan dan lautan dan berpengaruh terhadap kesehatan terutama terhadap perkembang biakan vektor penyakit seperti nyamuk Aedes, malaria dan lainnya.
1. Curah Hujan
Factor curah hujan mempunyai perngaruh nyata terhadap fluktuasi populasi Aedes aegypti (Irpis, 1972). Factor curah hujan itu mempunyai hubungan erat dengan laju peningkatan populasi di lapangan. Pada musim kemarau banyak barang bekas seperti kaleng, gelas plastic, plastic bekas, ban bekas, dan sejenisnya yang dibuang atau ditaruh tidak teratur di sembarang tempat. Sasaran pembuangan atau penaruhan barang bekas tersebut bisaanya di tempat terbuka seperti lahan-lahan kosong atau lahan tidur yang ada di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan. Ketika cuaca berubah dari musim kemarau ke musim hujan sebagian besar permukaan dan barang bakas itu menjadi sarana penampung air hujan. Bila di antara tempat atau barang bekas itu berisi telur hibernasi maka dalam waktu singkat akan menetas menjadi larva Aedes aegypti yang dalam waktu (9-12 hari) menjadi nyamuk dewasa (Supartha, 2008).
Nyamuk betina pada musim hujan memperoleh habitat air jernih yang sangat luas untuk meletakkan telurnya. Setiap benda berlekuk atau lekukan pohon atau bekas potongan pohon bamboo juga potensial sebagai penampung air jernih yang dapat dijadikan tempat peletakkan telur bagi serangga vektor terutama Aedes albopictus yang bisaa hidup di luar rumah. Terlebih lagi cuaca dalam keadaan mendung dapat merangsang naluri bertelurnya nyamuk. Populasi nyamuk meningkat drastic pada awal musim hujan yang diikuti oleh meningkatnya kasus DBD di daerah tersebut (Supartha, 2008).
2. Suhu
Perkembangan nyamuk Aedes aegypti berhubungan dengan perubahan iklim. Suhu yang semakin meningkat adalah suhu yang optimal bagi perkembangan larva dan kecepatan bagi virus bereplikasi, jika suhu terlalu dingin maka perkembangan virus dan nyamuk bergerak lambat. Suhu juga berpengaruh terhadap aktifitas makan (Wu dan Chang, 1993), dan laju perkembangan telur menjadi larva, larva menjadi pupa dan pupa menjadi nyamuk dewasa (Rueda dkk, 1990).
Suhu 20-30o Celcius merupakan suhu ideal bagi kehidupan nyamuk Aedes aegypti, naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. Dampaknya, nyamuk Aedes aegypti akan berkembangbiak lebih cepat. Meningkatnya suhu akan mempengaruhi masa inkubasi ekstrinsik agen penyakit menjadi lebih singkat serta pola perubahan kejadian DBD (Budiono, 2008).
3. Kelembaban
Kelembaban adalam konsentrasi uap air di udara. Kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan atau perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti adalah 60-70%. Kelembaban sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti terutama pada siklus telur. Bila kelembaban kurang, telur dapat menetas dalam waktu yang lama, bisa mencapai tiga bulan. Jika lebih dari waktu tersebut, telur akan mengalami penurunan fekunditas (tidak mampu menetas lagi). Meskipun baru seminggu jika kelembaban cukup tinggi (di atas 70%) embrio dapat mengalami perkembangan di dalam cangkang telur sendiri. Musim kemarau kepadatan polulasi nyamuk Aedes rendah karena tidak mendapatkan tempat untuk menetas. Sementara saat musim penghujan banyak terdapat genangan-genangan air sehingga nyamuk mendapatkan kelembaban yang tinggi sampai akhirnya menetas (Sukowati, 2008).
Kelembaban akan mempengaruhi pernapasan nyamuk dan berpengaruh pada telur untuk menetas, waktu yang diperlukan untuk menetas antara 8-10 hari. Bila temperatur tinggi dan kelembaban tinggi bisa mencapai delapan hari, sedangkan pada kondisi temperatur rendah serta kelembaban rendah bisa mencapai 10 hari (Sukowati, 2008).
4. Arah dan Kecepatan Angin
Arah dan kecepatan angin berhubungan dengan rentang jarak terbang nyamuk Aedes. Berdasarkan kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter (Aryant, 2007). Arah dan kecepatan angin juga berpengaruh terhadap penyebaran nyamuk Aedes, karena nyamuk Aedes dapat terbawa secara pasif oleh angin sehingga jarak yang dapat ditempuh nyamuk bisa semakin jauh dan penyebaran penyakit DBD dengan mudah meluas di suatu wilayah (Reiter, 2001).

D. Kerangka Teori

BAB III
METODE PENELITIAN


A. Kerangka Konsep



B. Hipotesis
1. Adanya pengaruh indeks curah hujan terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010.
2. Ada pengaruh suhu terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010.
3. Ada pengaruh kelembaban terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010.
4. Ada pengaruh arah angin terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010.
5. Ada pengaruh kecepatan angin terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Cilacap tahun 2005-2010.

C. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
a. Indeks curah hujan
b. Suhu
c. Kelembaban
d. Arah angin
e. Kecepatan angin
2. Variabel terkait adalah kejadian DBD
3. Variable anatara adalah kepadatan jentik

D. Definisi Operasional




E. Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional yaitu pengumpulan data dilakukan sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2005).

F. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Cilacap provinsi Jawa Tengah pada bulan Agustus tahun 2010.

G. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kejadian DBD Kota Cilacap yang tercatat sepanjang tahun 2005-2010
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh kejadian DBD Kota Cilacap yang tercatat sepanjang tahun 2005-2010

H. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa kejadian penyakit DBD sepanjang tahun 2005-2010 yang bersumber dari rekapitulasi bulanan data kesakitan tingkat rumah sakit, puskesmas Seluruh Kota Cilacap, Dinas Kesehatan Cilacap. Kondisi iklim yang berupa suhu, kelembaban, indeks curah hujan, arah dan kecepatan angin selama tahun 2005-2010 yang bersumber dari Badan Meteorologi dan Geofisika Cilacap.

I. Cara Pengumpulan Data
1. Data mengenai suhu, kelembaban, indeks curah hujan, arah dan kecepatan angin didapat melalui pengukuran yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika.
2. Data mengenai kejadian penyakit DBD didapat melelui rekapitulasi bulanan data kesakitan tingka rumah sakit, puskesmas Seluruh Kota Cilacap, yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Cilacap

J. Metode Analisis
Metode analisis meliputi:
1. Pengolahan data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah melalui beberapa tahapan yaitu:
a. Editing, adalah kegiatan pengecekan kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data sehingga validitas dapat terjamin
b. Coding,adalah merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka pada setiap jawaban. Tujuan mempermudah peneliti dalam menganalisis data
c. Entry data, adalah kegiatan memasukkan data ke dalam komputer selanjutnya dilakukan analisis data
d. Tabulating, adalah mengelompokan data sesuai dengan variabel yang diteliti.

2. Analisis data
Analisis data statistik secara komputerisasi, meliputi:
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap variabel dari hasil peneltian. Hasil analisis ini menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel yang diteliti sesuai dengan jenis data, baik data numerik maupun kategorik (Notoatmodjo, 2005). Berupa tabel, grafik, dan peta yang dibuat menggunakan GIS, yang bertujuan menggambarkan distribusi penyakit DBD, indeks curah hujan, suhu, kelembaban, arah angin serta kecepatan angin.
b. Analisis Bivariat
Analisis bavariat dilakukan dengan menggunakan uji regresi linier sederhana yaitu model regresi yang hanya memiliki variabel independendan satu variabel dependen. Hasil regresi sederhana digunakan untuk menentukan variabel bebas yang mempunyai hubungan dengan variabel terkait. Variabel bebas dengan nilai p < 0,05 berarti mempunyai hubungan dengan variabel terkait (Purwanto, 2007). K. Jadwal Penelitian



DAFTAR PUSTAKA
Barrera, R, M. Amador dan G. G. Clark 2006. Ecological Factor Influencing Aedes aegypti (Diptera ; Culicidae ) Produktivity in Artificial Containers In Salinas, Puerto Rico, J. Med Entamol. 43(3); 484-492.
Budiono, 2008. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Kejadian DBD di Kota Semarang Tahun 2007, FKM UNDIP Semarang
Dinas Kesehatan Cilacap. 2004-2008. Profil Kesehatan Kota Cilacap. Dinkes. Cilacap
Departemen Kesehatan RI. 2004. Demam Berdarah Dengue, Depkes. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Depkes, Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 2005. Kejadian DBD di Indonesia. Http://www.depkes.go.id, di akses pada 20 juni 2010
Hales, S. Wet, N.D. Maindonald, J. Woodward, A. 2002. Potential Effect Of Population And Climate Changes On Global Distribution Of Dengue Fever; An Empericial Model, Welington School of Medicine and Health Sciences, New Zealand
Irpis, M. 1972. Seasonal Changes In The Larval Population Of Aedes Aegepty in Two Biotopes In Dar Es Salaam, Tanzania. Bull. World Health Organ. 47:245-255
Judarwanto, W. 2007. Profil Nyamuk Aedes dan Pembasmiannya, Http://www.indonesiaindonesia.com/f/1344-profil-nyamuk-aedes-pembasmian . Diakses pada 19 juni 2010
Merrit, R.W. & K.W. Cummins(Eds). 1978. An Introduction to The Aquatic Insects of North America. Kendall/Hunt Publishing Company. 441p.
Noer, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien, Monica Ester. Jakarta
Notoadmojo,S. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta, Jakarta
Purwanto, dkk. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif. Gaya Media, Yogjakarta
Siregar, D. 1992. Pedoman Bidang Studi Perencanaan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Depkes RI, Jakarta
Siregar, F.A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan DBD di Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSU. Sumatra Utara
WHO. 1997, Dengue Haemorrhagic Fever; Diagnosis Treatment, Prevention, Control. World Health Organization, Geneva
WHO. 1998. Demam Berdarah Dengue; Diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan pengendalian. EGC, Jakarta
WHO. 2000. Pencegahan dan Penaggulangan Penyakit Demam Berdarah dan Bemam Berdarah Dengue. Terj, WHO Regional Publication SEARO No.29. WHO dan Depkes RI. Hal 53
WHO. 2002. Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue. EGC, Jakarta
Wormack, M. 1993. The yellow fever mosquito, Aedes aegepty. Wing Beats, Vol. 5(4);4

Komentar

  1. uwdah di acc blum tu proposal???

    BalasHapus
  2. daftar pustakanya koq gk d terbitkan nih?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leaflet Gizi Diit Atlet Sepak Bola

10 Judul Skripsi Kesehatan Masyarakat tentang pelaksanaan program P2DBD dan obat antibiotik

1.Manajemen penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan tahun 2008 2.Gambaran pelaksanaan program P2DBD di Puskesmas kecamatan Tanah Abang tahun 2007 3.Faktor yang mempengaruhi pola pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Bojongloa Kidul, kota Bandung tahun 2007 4.Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi berdasarkan IMT pada pembantu rumah tangga (PRT) wanita di Perumahan Duta Indah Bekasi tahun 2008 5.Gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kecenderungan penyimpangan perilaku makan pada siswi SMAN 70 Jakarta Selatan tahun 2008 6.Hubungan waktu tempuh dan over time dengan frekuensi kelelahan pada pengemudi truk Mixer PT. X tahun 2008 7.Gambaran perencanaan perbekalan obat di Poliklinik Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Narkotika Jakarta tahun 2007 8.Gambaran sikap ibu yang melakukan dan tidak melakukan inisiasi menyusu dini terhadap pelaksanaan menyusu dini di puskesmas kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan tahun 2008. 9.Dinamika program ru...

Laporan praktikum gaky di magelang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ` Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki dampak sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. GAKY meliputi pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid, GAKY berpengaruh terhadap prestasi belajar anak usia sekolah dan, rendahnya produktivitas kerja. Pada wanita hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan pada bayi yang lahir berupa gangguan perkembangan saraf, mental dan fisik yang disebut kretin. Di Indonesia saat ini sekitar 750 orang menderita kretin, 10 juta mengalami gondok dan 3,5 juta orang terjangkit gangguan bentuk lain. Survey pemetaan GAKY di Indonesia menunjukkan peningkatan masalah penderitaan kretin membengkak hingga tercatat sebanyak 290.000 orang (Arisman, 2004). Sumber utama yodium adalah makanan yang berasal dari laut yaitu garam, ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber yodium ...